Ini Kriteria Powerbank Yang Boleh Dibawa Ke Pesawat

Maskapai penerbangan China Southern Airlines pada akhir februari lalu mengalami peristiwa yang mengejutkan. Karena powerbank yang dibawa seorang penumpang di bagasi kabin terbakar, seluruh penumpang terpaksa menunda keberangkatan mereka dari Guangzou ke Shanghai. Penumpang dewa poker bersangkutan pun diinterogasi polisi untuk dimintai keterangan.

 

Sebenarnya ICAO atau Organisasi Penerbangan Sipil Internasional telah melarang memakai baterei lithium cadangan selama penerbangan. Sementara penggunaan alat elektronik lainnya hanya diperbolehkan dalam batas-batas tertentu. Sebagai regulator penerbangan nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga telah menerbitkan surat edaran pada 9 Maret lalu yang berhubungan dengan hal ini.

 

Agus Susanto, Dirjen Perhubungan Udara, menegaskan dalam siaran pers-nya bahwa pelarangan berlaku untuk alat elektronika dengan daya yang besar, sementara perangkat elektronik kecil diperbolehkan sesuai ketentuan berlaku. Semua ini demi menjaga keselamatan penerbangan sebagaimana aturan yang juga mulai diterapkan di banyak Negara maju. Berkaitan dengan peraturan ini para petugas berwenang juga harus mulai menyampaikan ketetapan baru tersebut kepada calon penumpang.

 

Dengan demikian prosedur pemeriksaan barang bawaan penumpang dapat dilakukan dengan penuh etika. Agar perjalanan udara berjalan lancar, aman, dan nyaman Agus juga menghimbau masyarakat untuk patuh dan mengikuti ketentuan baru tersebut. Semua pihak seharusnya turut bertanggungjawab pada keselamatan dan keamanan penerbangan, termasuk juga penumpang, selain pihak regulator dan operator.

 

Jenis baterei cadangan yang diijinkan di dalam pesawat

Sesuai standar prosedur pemeriksaan, petugas maskapai wajib bertanya saat penumpang check in apakah yang bersangkutan memiliki power bank atau baterei lithium cadangan. Berikutnya petugas juga wajib memeriksa apakah perangkat tersebut tak terkoneksi dengan peralatan elektronik lainnya. Maskapai berhak melarang tak hanya penumpang, melainkan juga kru pesawat terbang yang melakukan pengisian daya gawai dengan powerbank selama penerbangan.

 

Baterei lithium cadangan atau powerbank juga tak boleh diletakkan pada bagasi tercatat melainkan melainkanpada bagasi kabin. Perangkat pengisian ulang daya yang diperbolehkan adalah  yang memiliki daya per jam-nya atau (watt-hour) maksimal sebesar 100 Wh. Bila penumpang membawa perangkat elektronik pada penerbangan dengan daya per-jam lebih dari 100 Wh namun kurang dari160 Wh, harus dengan persetujuan maskapai.

 

Jumlah unit yang boleh dibawa juga dibatasi yaitu maksimal 2 unit. Sementara untuk perangkat elektronik dengan daya per jam lebih dari 160 Wh atau tak diketahui daya-nya secara pasti, maka peralatan tersebut tak boleh dibawa ke dalam pesawat. Lebih jauh Agus menghimbau para personel bandara segera merespon ketetapan baru tersebut dengan merancang SOP (Standard Operational Procedure). Selain itu kantor otoritas bandara di seluruh tanah air juga diminta untuk menindaklajuti pelaksaan aturan baru tersebut dengan pengawasan yang intensif.

 

Cara menghitung jumlah daya per jam

Dengan dijalankannya aturan ini secara konsisten diharapkan perjalanan dengan moda transportasi udara akan benar-benar aman, nyaman, dan selamat. Bagi para penumpang bila tak tertera keterangan jumlah daya per jam pada perangkat powerbank atau baterei lithium cadangan Anda, maka rumus menghitungnya adalah E=V X l. E adalah daya per jam, V adalah voltase, dan l adalah kapasitas atau jumlah arus.

 

Bila Anda hanya mengetahui jumlah miliampere (mAh) dan ingin mengetahui jumlah ampere-hour(Ah) maka Anda tinggal membaginya 1000. Misalnya, jumlah voltase diketahui 5V, sementara jumlah kapasitasnya adalah 6000 mAh, dengan demikian jumlah daya per jam-nya adalah 6000 mAh dibagi 1000 dan hasilnya adalah 6 Ah. Lalu kalikan jumlah voltase dengan kapasitas, jadi, 5V X 6Ah = 30 Wh. Karena di bawah 100 Wh, maka perangkat tersebut masih diperbolehkan dibawa ke dalam pesawat.