Dilema Tarif Ojol Naik: Sopir Senang, Penumpang Jadi Malang

Deskripsi singkat: Pemerintah menaikkan tarif ojol di mana membuat para sopir senang namun tidak untuk para penumpangnya.

Dilema Tarif Ojol Naik: Sopir Senang, Penumpang Jadi Malang

Dompet Nur Utomo (35) tidak terasa lebih berat dan tebal ketimbang hari-hari biasanya. Di jam 18.000 WIB saja, pria yang sehari-harinya memiliki profesi sebagai supir ojek online di Go-Jek ini telah mengantongi uang sebanyak Rp. 400.000.

Tarif Ojol Naik, Penumpang Menjerit

Sebelum-sebelumnya, saat adzan maghrib menjelang, ia baru berhasil mengantongi uang Rp. 300.000 saja. Peningkatannya memang mungkin terlihat tipis, hanya Rp. 100.000 saja namun tidak menghalanginya mengucapkan rasa syukurnya atas nikmat yang telah diterimanya.

Sudah dua hari ini pendapatannya bertambah. Tepatnya, stelah pemerintah mengatur dan bandar togel terbesar memberlakukan kenaikan tarif ojol di 5 wilayah hari Rabu (1/5) kemarin. Salah satu zona di mana tarif ojolnya meningkat adalah DKI Jakarta. Sisanya adalah di Yogyakarta, Bandung, Makassar dan Surabaya.

Nur sendiri mengatakan bahwa tarif jarak jauh saat ini sebanyak Rp. 2.500/ km dari yang sebelumnya Rp. 2.000 saja. Sedangkan tarif jarak dekat mulai diberlakukan dair yang tadinya Rp. 1.700 sampai dengan Rp. 1.800 sekarang menjadi Rp. 2.000 per km nya.

“Dapat berapanya sebenarnya sih tergantung tarikan, jarak jauh apa dekat. Kalau rata-rata dulu dicampur jarak dekat dan jauh itu sekitar Rp. 300.000 sampai Rp. 400.000 per harinya,” ungkap Nur dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (2/5).

Apabila dipukul rata selama 1 bulan, penghasilan Nur ini sudah menyentuh angka Rp. 7 juta sampai dengan Rp. 8 juta. Nominal itu belum dengan asumsi dirinya yang mengambil jatah libur pada hari Sabtu dan Minggu. “Kalau sekarang setelah dinaikkan ini mungkin bisa nambah, sehari bisa saja jadi mungkin Rp. 450 ribu,” imbuhnya lagi/

Artinya adalah pendapatan Nur dalam sebulan bisa mencapai Rp.9 juta. Ia mengaku amat sangat senang. “Tapi informasinya dari perusahaan hanya uji coba tiga hari, tidak tahu nanti setelah tiga hari seperti apa. Diteruskan atau tidak,” ungkap Nur.

Penumpang Menjerit

Perantau dari Yogyakarta yang bisa dibilang menggantungkan hidupnya 100% dari profesi ojek online ini sangat senang. Biasanya Nur memulai pekerjaan ojolnya dari jam 07.00 WIB dan pulang ke rumahnya jam 12.00 WIB untuk istirahat. Lalu ia kembali lagi mengojek jam 13.00 WIB dan pulang larut malam. Ia biasanya menghabiskan kurang lebih Rp. 100.000 untuk bensi dan membeli makan.

Tidak Cuma itu, ayah satu anak ini juga mesti merogoh koceknya Rp. 800.000 per bulan guna menyewa sepetak kontrakan yang ada di Kawasan Menteng Dalam. Belum lagi dengan cicilan motornya yang besarnya Rp. 1.3 juta.

“Jadi uang yang diperoleh tadi semua kotor, ya bersihnya di bawah Rp. 5 juta,” katanya. Namun ia beruntung karena istrinya bekerja juga dengan membuka warung di dekat kontrakannya. Jadi ia bisa menambah sedikit penghasilan bagi keluarga kecilnya.

Walau demikian, ia berharap pemerintah tidak menurunkan tarif ojol yang sekarang ini telah diberlakukan terhitung 3 hari sejak tanggal 1 Mei 2019 lalu. “Naiknya kalau dilihat memang sedikit tarif jauhnya hanya Rp. 500 saja. Namun semoga ini tidak diturunkan lagi, karena yang kemarin itu pas-pas an sekali,” ungkapnya berharap.

Namun apa yang dirasakan Nur ini tidak dirasakan penumpang karena penumpang harus membayar selisih yang lumayan jika dirasakan. Mereka mengungkapkan mahalnya terasa sekali. Yang misalnya tadinya hanya Rp. 27.000 menjadi Rp. 37.000. sehingga ada beberapa penumpang yang berencana mengurangi penggunaan ojol.

Leave a Reply