Kesaksian Dua Mahasiswi Bandung Soal Dugaan Pelecehan Seksual di Kampus

Kasus kekerasan seksual pada wanita di lingkungan kampus terjadi lagi. Setelah public dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sekarang publik dibuat marah lagi atas kasus pelecehan seksual yang dialami seorang mahasiswa di Bandung, sebut saja Bunga.

Bunga

Bunga-bukan nama yang sebenarnya-hanya tinggal melangkah sejengkal lagi menuju kelulusannya dari salah satu universitas universitas saat dugaan pelecehan seksual menimpanya. Beberapa hari setelah siding skripsinya berakhir, Bunga menemui dosen bandar togel hk pengujinya, sebut saja Totok. Totok dimintanya untuk menandatangani revisi skripsinya.

Akan tetapi, alih-alih membahas soal skripsinya, Totok malah mengajak Bunga berbicang-bincang hal yang tidak ada hubungannya dengan skripsinya. Namun, demi menjaga kesopanannya, Bunga tetap menjawab pertanyaan dari dosen pengujinya itu dengan baik-baik. Meskipun, ia pun juga sebetulnya rishi sekali karena Totok memegang-megang tangan Bunga sepanjang pembicaraan mereka.

Tidak diduga, tangan Totok tidak hanya menggerayangi tangan Bunga saja, melainkan memeluknya dan memegang paha serta dadanya. Bunga pun akhirnya terkejut dan sangat amat terpukul. Akhirnya ia melepaskan diri dari Totok dan akhirnya memberanikan diri keluar dari ruangan, berlari, dan menangis sejadi-jadinya.

Akhirnya dengan dukungan teman-temannya, Bunga pun akhirnya melaporkan kejadian itu ke pihak dekanat. Akan tetapi, respons dari dekanat di luar dugaannya. “Dia (dekannya) meminta maaf karena sudah menunjuk Totok sebagai penguji saya. Ia minta saya untuk memaafkannya,”kata Bunga.

Bunga Tak Sendirian

Setelah melapor, beberapa mahasiswa yang lainnya yang merupakan senior Bunga, mengatakan pada Bunga bahwa mereka juga pernah mengalami hal yang serupa dengan dirinya. “Bukan aku menyalahkan kakak tingkat aku. Setelah aku piker-pikir lagi, kenapa mereka malah keep masalah ini untuk mereka sendiri? Dampaknya kan aku merasakan apa yang mereka rasakan,” imbuhnya.

Walaupun kondisi psikologisnya terganggu, bahkan sampai setelah ia melaporkannya setelah kejadian tersebut, Bunga pun akhirnya memberanikan dirinya untuk mencari secercah keadilan di tingkat fakultasnya. Harapannya Cuma satu, ia mau Totok dikeluarkan dan tak ada lagi korban berjatuhan di kampus itu.

Pihak kampus, kemudian, mengadakan sebuah mediasi, di mana Totok dihadirkan dan dihadapkan dengannya. Ketika itu, Bunga mengatakan bahwa Totok berulang-ulang kali mengelak telah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya.

Setelah didesak beberapa orang mahasiswa untuk mengakui perbuatannya, akhirnya Totok terhimpit dan mengakui perbuatan bejatnya. Ia akhirnya meminta maaf setelah menantang Bunga untuk membawa kasus ini ke meja hijau.

Hari berlalu akhirnya tanpa Totok diberikan sanksi dari pihak kampusnya. Bunga dan kawan-kawan pun geram dan merasa ini tidak adil. Akhirnya ia dan kawan-kawan mahasiswa lainnya mengejar penuntasan kasus tersebut sampai ke tingkat rekotoran dan juga yayasan. Desakan tersebut akhirnya bisa membuat Totok mengundurkan diri.

Kampus pun mengabulkan pengunduran diri Totok dan mengeluarkan surat pemberitahuan untuk Totok. Walaupun Totok sudah hengkang dari kampusnya, proses panjang Bunga untuk mencari keadilan belum lah berakhir begitu saja.

Ia masih diundang guna menjelaskan kasusnya dengan pihak jajaran atas kampusnya, di mana ia yang malah kerap dituding oleh tim pemeriksa atas apa yang tengah dihadapinya itu. Ia masih mengingat apa yang dikatakan para tim pemeriksa itu. Ia dianggap “memberikan peluang” dan disalahkan mengapa “tak langsung keluar dari ruangan setelah tanda tangan? Kenapa kamu tidak melawan?”

Tanpa jasa konseling dari siapapun, bahkan dari kampus, ia mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri dan melupakan apa yang telah terjadi dengan menyibukkan diri.

Leave a Reply